Ayah adalah orang tua laki-laki seorang anak. Tergantung hubungannya dengan sang anak, seorang "ayah" dapat merupakan ayah kandung (ayah secara biologis) atau ayah angkat. Panggilan "ayah" juga dapat diberikan kepada seseorang yang secara de facto bertanggung jawab memelihara seorang anak meskipun antar keduanya tidak terdapat hubungan resmi.

Bapak dan Papa adalah sebutan lain untuk ayah. Pemanggilan ayah dengan sebutan "papa" sudah menjadi hal yang umum di masyarakat Indonesia. Dalam bahasa gaul ayah disebut dengan Bokap.
Panggilan lain untuk bapak:
  • Babe (Betawi)
  • Abah (Sunda)
  • Bape (Bali)
  • Amaq (Lombok)
  • Amang (Batak)
  • Apak (Minangkabau)
7 Cara Mengusir Mual Saat Hamil
Penulis : Christina Andhika Setyanti 
Mual merupakan gejala normal saat hamil, namun mual berlebihan bisa mengganggu kesehatan ibu dan janin.
KOMPAS.com - Mual dan muntah (morning sickness) merupakan hal yang lumrah dialami oleh wanita hamil. Kondisi ini biasanya dialami di trimester pertama dalam kehamilan, dan akan hilang dengan sendirinya saat memasuki trimester kedua dan ketiga. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi mual-muntah pada ibu hamil, agar tidak menimbulkan masalah pada ibu dan janinnya, serta tidak mengganggu aktivitas Anda.
"Mual dan muntah yang berlebihan akan membuat ibu dan janin menjadi kekurangan gizi. Maka mual dan muntah ini harus dikurangi," ujar dr Prima Progestian, SpOG, ahli kandungan dan kebidanan, saat talkshow "Jangan Biarkan Rasa Mual Menghalangi Asupan Nutrisi untuk Kehamilan Sehat", yang diadakan Anmum Materna di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (2/9/2011) lalu.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi mual ini adalah:
1. Ubah kebiasaan makan. Pada kondisi hamil awal, biasanya ibu hamil akan sulit makan karena rasa mual. Agar tak kekurangan nutrisi, jangan makan sekaligus dalam porsi yang besar, tapi cobalah untuk makan sedikit-sedikit dalam porsi kecil namun sering. "Sehingga dalam sehari bisa makan 4-5 kali sehari, dalam porsi kecil. Hal ini untuk mencegah perut kosong dan mempertahankan kestabilan kadar gula darah," tukas dokter yang berpraktik di Brawijaya Women and Children Hospital, Jakarta Selatan, ini.
2. Konsumsi gizi seimbang. Ketika hamil, makanlah banyak makanan yang tinggi karbohidrat, dan tinggi protein. Jangan lupa untuk mengonsumsi buah-buahan dan sayur sebagai pelengkap gizi seimbang.
3. Bergerak perlahan. Biasakan untuk bergerak perlahan, dan hindari bergerak dengan gerakan refleks dan cepat. Saat bangun pagi, jangan terburu-buru untuk bangun dan berdiri. Duduklah sebentar dan bersandar pada tempat tidur. Setelah beberapa saat, baru bergerak perlahan dan berdiri.
4. Siapkan camilan. Bila merasakan mual saat bangun pagi, siapkan camilan seperti biskuit yang menjadi favorit Anda di dekat tempat tidur. Hal ini akan menghindari perut Anda kosong.
5. Hindari makanan tertentu. Ketika hamil, biasanya penciuman akan menjadi lebih sensitif. "Sehingga bila ada bau tertentu akan merangsang rasa mual. Tetapi hal ini berbeda-beda setiap orangnya," tambahnya. Untuk menghindari rasa mual dan muntah, hindari makanan yang berbau tajam, rokok, dan bau yang menyengat lainnya.
6. Minum jahe. Selain berfungsi sebagai penghangat badan, jahe juga berfungsi untuk meredakan rasa mual yang diderita ibu hamil. Jika merasa mual, minum saja rebusan jahe sebanyak 250-300 mg sekali minum.
7. Konsumsi suplemen. Sampai sekarang, banyak suplemen yang dijual untuk mengurangi rasa mual ketika hamil. Namun, untuk mengurangi mual, konsumsilah suplemen yang mengandung vitamin B6

Merawat Gigi Bayi yang Baru Tumbuh

Merawat Gigi Bayi yang Baru Tumbuh
Ibu mungkin menjumpai bayi yang tiba-tiba menjadi suka menangis, mengalami demam ringan, mengeluarkan air liur lebih banyak daripada biasanya, dan suka menggigit-gigit apa saja di sekitarnya. Kemungkinan besar itu berarti bayi Ibu sedang tumbuh gigi.
Kondisi ini bisa berlangsung antara satu atau dua bulan. Normalnya, gigi bayi pertama kali muncul saat berusia 4 sampai 7 bulan. Ukuran usia ini tidak mutlak, sebab sangat tergantung dari status gizi bayi terutama asupan kalsium selama masa hamil dan menyusui.
Bila si kecil sudah tumbuh gigi, ada baiknya Ibu lebih rajin membersihkan giginya yakni, dengan menyikat gigi si bayi. Karena tumbuhnya gigi si bayi masih baru, maka dalam membersihkannya pun diperlukan cara menyikat khusus. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Ibu lakukan dalam membersihkan gigi bayi dengan baik dan benar.
Menggunakan Sikat Gigi yang Tepat atau Kain Kasa / Lap Lembut
Ketika bayi mulai tumbuh gigi, menyikat giginya sudah boleh menggunakan sikat. Gunakan sikat gigi yang berukuran kecil dengan bulu-bulu yang lembut. Lebih baik gunakan sikat gigi kecil khusus bayi yang terbuat dari karet lunak yang tidak mengandung toksin (zat racun). Jika tidak ada sikat gigi khusus bayi, maka Ibu dapat menggunakan kain kasa atau lap berbahan lembut.
Menyikat Gigi dengan Benar
Cara menyikat gigi bayi di atas harus dilakukan dengan posisi ibu duduk sambil memangku si bayi dengan tangan kiri. Lalu tangan kanan Ibu yang membersihkan gigi si bayi dengan kain kasa atau lap basah. Sikatlah perlahan ke arah atas dan bawah dari gigi, jangan menyikat dengan gerakan menyamping pada gigi atau menyikat gigi dengan arah bolak balik karena ini bisa mencederai gusinya. Jadi harus disikat searah yakni ke atas dan kebawah pada bagian permukaan gigi bagian depan dan belakang serta lidah. Lakukan pada bagian permukaan gigi bagian depan, belakang, atas dan bawah serta lidah.
Mengganti Sikat Gigi Bila Sudah Rusak
Gantilah sikat gigi setiap 3-4 bulan sekali atau langsung ganti ketika bulu sikatnya terlihat mulai rusak. Caranya, bila bulu sikat gigi yang biasanya berwarna sudah memudar, maka sudah waktunya sikat tersebut diganti. Atau ketika Ibu menemukan sudah ada bulu sikat gigi yang rontok, atau fleksibilitasnya mulai berkurang, segeralah menggantinya.
Simpan Sikat Gigi dalam Keadaan Kering
Sikat gigi yang basah dan lembab akan merusak bulu sikat jika dibiarkan begitu saja. Akan lebih baik jika sikat gigi disimpan tertutup dalam keadaan kering. Caranya, biarkan sikat gigi kering setelah dipakai, baru tutup dengan tutupnya.

Membersihkan Bagian Dalam Gigi
Kebanyakan Ibu ternyata sering kali lupa untuk membersihkan bagian dalam gigi, bagian yang bersentuhan dengan lidah. Plak yang tersembunyi sama pentingnya untuk dibersihkan seperti plak yang terlihat. Biasanya titik yang paling sering di bersihkan adalah bagian depan gigi saja. Mulai sekarang, Ibu sebaiknya mulai lebih sering membersihkan bagian-bagian yang disebutkan tadi.
Nah Ibu, sama seperti kondisi kesehatannya secara umum. Kesehatan gigi juga merupakan investasi yang penting untuk buah hati kita. Keadaan gigi yang sehat akan membuatnya lebih sehat dan optimal dalam pertumbuhannya. Salam sayang untuk buah hati ya.
Smr:ibudan balita

Posisi Tidur yang Aman Bagi Ibu Hamil

Posisi Tidur yang Aman Bagi Ibu Hamil
Pernahkah Ibu mengalami kesulitan tidur selama kehamilan? Sebagian besar Ibu hamil pasti akan menjawab pernah.
Umumnya Ibu hamil merasa khawatir terhadap keamanan janinnya, apalagi posisi tidur yang nyaman memang susah-susah gampang ketika usia kehamilan semakin bertambah, sehingga tidurpun menjadi tak nyenyak. Akibatnya Ibu sering mengalami rasa letih dan lemas pada siang hari.
Pada umumnya, Ibu akan mengalami kesulitan menemukan posisi yang nyaman untuk tidur ketika usia kandungan memasuki lima bulan. Ada posisi tidur yang aman serta nyaman, ada juga posisi tidur yang kurang aman.
Berikut adalah posisi tidur yang kurang aman dan nyaman bagi Ibu hamil:
Tidur dengan posisi tengkurap
Posisi tidur seperti ini sebenarnya cukup aman buat Ibu yang hamil trimester pertama. Tetapi kurang nyaman. Mengapa bisa terjadi? Karena adanya pembesaran payudara sehingga payudara menjadi lebih sensitif, dan akan menimbulkan ketidaknyamanan saat Ibu tidur tengkurap.
Ketika perut Ibu mulai membesar pada awal minggu ke-14 posisi tidur semakin tidak nyaman. Untuk menghindari ketidaksengajaan menengkurap ketika tidur, Ibu bisa menyokong paha dengan bantal.
Tidur dengan posisi terlentang
Posisi ini tidak dianjurkan bagi Ibu hamil. Karena tidur dengan posisi terlentang dapat meningkatkan risiko sakit pinggang, wasir, dan gangguan pencernaan. Selain itu, posisi tidur terlentang pada trimester kedua dan ketiga juga dapat mempengaruhi tekanan darah yang membuat Ibu akan merasakan pusing. Posisi tidur terlentang akan meletakkan seluruh berat rahim ke bagian belakang, usus, dan vena cava inferior.
Lalu posisi tidur bagaimanakah yang aman bagi Ibu hamil?
Tidur dengan posisi miring
Posisi tidur terbaik selama kehamilan biasa disebut sebagai “SOS” alias sleep on side atau tidur miring. Posisi tidur miring sangat dianjurkan bagi Ibu hamil saat kandungan berusia 16 minggu. Dengan Ibu tidur miring ke kiri atau ke kanan, akan meningkatkan jumlah darah dan nutrisi yang dapat mencapai plasenta dan bayi Ibu. Caranya, ketika tidur miring ke kiri, luruskan kaki kiri kaki lalu tekuk lutut kanan dan sangga dengan bantal di antara kaki Ibu. Apabila miring ke kanan, berarti posisi kaki sebaliknya.
Tidur posisi miring kiri bisa memberikan keuntungan bagi bayi agar mendapatkan aliran darah dan nutrisi yang maksimal ke plasenta karena adanya vena besar (vena cava inferior) di bagian belakang sebelah kanan tulang belakang yang mengembalikan aliran darah dari tubuh bagian bawah ke jantung. Selain itu juga dapat membantu ginjal untuk membuang sisa produk dan cairan dari tubuh Ibu sehingga dapat mengurangi pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki dan tangan.
Pada akhir kehamilan Ibu mungkin akan mengalami kondisi seperti sesak napas, cobalah berbaring miring ke kiri atau disangga dengan bantal. Dan bila Ibu merasakan kram kaki, Ibu bisa mengatasinya dengan meluruskan kaki dan gerak-gerakkan kaki ke atas saat sedang berbaring tidur. Jika Ibu mengalami asam lambung yang meningkat saat hamil, hal ini juga bisa diatasi melalui tidur dengan kepala dan leher diangkat pada posisi lebih tinggi.
Semoga dengan Ibu melakukan cara ini, tidur Ibu bisa lebih nyaman dan nyenyak. Dan bayi di dalam kandungan pun bisa terjaga dengan baik dan sehat. Selamat mencoba. 
smbr:ibudanbalita

Tips Memilih Tempat Penitipan Anak

Tips Memilih Tempat Penitipan Anak
Saat ini, orangtua yang bekerja di luar rumah sudah bukan menjadi fenomena yang aneh lagi. Seorang Bunda kini tidak lagi terikat untuk mengurusi rumah dan keluarganya saja, namun juga berhak mengejar karirnya di luar rumah. Bahkan tak jarang, justru sang Bunda-lah yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Lalu, bagaimana dengan anak-anaknya? Siapa yang mengasuh dan membantu mendidik mereka saat orangtuanya sibuk bekerja? Bagi sebagian orangtua, daycare atau tempat penitipan anak merupakan salah satu solusinya.
Ada beberapa keuntungan yang bisa dirasakan Bunda dengan menitipkan si kecil di tempat penitipan anak. Kebanyakan tempat penitipan anak memiliki program yang mengajarkan berbagai pendidikan dan keterampilan yang dapat membantu meningkatkan kemampuan belajar anak, bukan hanya bermain sepanjang hari. Selain itu, dengan berkumpul bersama teman-teman sebayanya di tempat tersebut, anak-anak juga menjadi terbiasa dan terpacu untuk bisa bersosialisasi.
Meskipun demikian, menitipkan anak di tempat penitipan anak juga memiliki beberapa kelemahan. Anak biasanya tidak mendapatkan perhatian penuh, seperti yang biasa anak dapatkan dari orangtuanya, karena petugas di tempat tersebut harus memperhatikan anak-anak lainnya. Selain itu, si kecil juga lebih mudah terserang sakit karena tertular oleh anak lain yang sedang sakit. Belum lagi jika bicara masalah peraturan yang terlalu ketat atau biaya yang cukup mahal dan memberatkan orangtua.
Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab Bunda untuk bisa memilihkan tempat penitipan anak, yang tidak saja menyenangkan namun juga mendidik bagi buah hatinya. Berikut beberapa hal penting yang harus diperhatikan:
1. Buatlah daftar tempat penitipan anak yang sudah memiliki lisensi. Sebelum menentukan pilihan pada sebuah tempat penitipan anak, carilah referensi tempat sebanyak-banyaknya dari orang-orang yang pernah menggunakan jasa tempat penitipan anak.
2. Datang langsung ke tempat penitipan anak dan mewawancarai para staf dan pengurusnya, bisa menjadi petunjuk mengenai kualitas tempat penitipan anak. Staf yang berkualitas akan antusias saat berinteraksi dengan anak-anak. Mereka juga harus memiliki kedisiplinan yang tinggi dan pengalaman yang cukup dalam mengasuh anak.
3. Perhatikan setiap sudut ruang tempat penitipan anak. Pastikan lingkungannya dalam keadaan aman dan bersih. Tidak hanya itu, lihat pula bagaimana mereka membersihkan peralatan bermain, peralatan makan, dan lain sebagainya.
4. Aturan dan jadwal yang diterapkan di tempat penitipan anak juga perlu diketahui oleh Bunda sebagai bahan pertimbangan. Sebuah tempat penitipan anak yang baik akan menerapkan aturan ketat seperti pengaturan jam bermain, jam makan, pemeriksaan kesehatan untuk mencegah penyebaran penyakit dari anak yang sedang sakit, dan lain sebagainya.
Dengan mencarikan tempat penitipan anak yang tepat, bukan hanya orangtua yang bisa lega dan nyaman bekerja, namun anak juga bisa mendapatkan banyak manfaat bagi perkembangan fisik dan mentalnya. Karena mencintai anak tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materinya, namun juga tidak melupakan kebutuhan psikologisnya.
smbr: ibudanbalita
Copyright © bayi anak sehat .